Manusia Dan Masyarakat Multikultur

A. PENDAHULUAN

Dewasa ini terdapat banyak alasan untuk mempelajari kebudayaan dari perspektif keragaman etnis, ras bahkan agama. Tidak terkecuali psikologi, saat ini semakin terdorong memperhatikan keragaman manusia. Diantaranya dengan daya sosial yang sedang bergulir sekarang adalah perubahan demografi masyarakat secara keseluruhan yang semakin pluralistik dan multikultural. Hal ini menuntut setiap orang dapat mengenali, memahami dan menghadapi keragaman ini, agar ia dapat berfungsi dengan baik dan bertanggung jawab di dalam masyarakat saat ini.

Seiring waktu yang mendekati penghujuang abad 21, banyak perubahan dan isu sosial yang semakin penting, semakin luas dan mendesak untuk dihadapi. Kebudayaan tidak lagi menjadi milik masyarakat tertentu, kekhasanya dari berbagai ras, etnis dan agama menjadi bagian dari hidup setiap individu lainnya.

Dengan demikian, budaya tidak sama dengan kebangsaan (nasionalitas). Seseorang yang berasal dari Jerman tidak menjamin bahwa ia akan berperilaku sebagai budaya yang dipandang atau dianut mayoritas orang Jerman. Terbukti dari hasil penelitian bahwa terdapat sejumlah orang yang tidak cocok dengan setereotif kultural negaranya sendiri.

Matsumako (2008) mengakui bahwa budaya adalah konsep yang sulit didefinisikan. Sedangkan Margaret Mead, Ruth Benedict dan Geer Hopstede mendefinisikan budaya sebagai konglomerasi/sekumpulan sikap, nilai perilaku dan keyakinan bersama yang dikomunikasikan dari satu generasi kegenerasi berikutnya melelui bahasa. (Matsumoto, 2008:14)

Lebih tepat lagi budaya merupakan suatu konstruk individual-psikologis dan konstruk sosial makro, yakni sampai batas tertentu budaya ada di dalam setiap dan masing-masing diri kita secara individual sekaligus ada sebagai sebuah konstruk sosial global. Ketika kita berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan perilaku tertentu, maka kebudayaan tersebut ada di dalam diri kita. Dan sebaliknya jika kita tidak berperilaku seperti itu maka kita tidak menjadi bagian dari kebudayaan tersebut.

Kebudayaan merupakan produk manusia, perubahan kearah peningkatan dalam memenuhi kebutuhan dan harapan sesuai dengan zamannya melahirkan kebudayaan baru. Dengan demikian, antara kebudayaan dengan manusia saling mempengaruhi. Secara langsung maupun tidak langsung manusia mempengaruhi kebudayaan dan sebaliknya terbentuknya dan perubahan kebudayaan diantaranya merupakan pengaruh manusia.

Bimbingan dan konseling sangat dibutuhkan dalam budaya masyarakat yang demikian. Konselor tidak lagi menangani konseli dalam batas lingkup terdekat atau adanya kesamaan etnis dan agama, karena sangat dimungkinkan terjadi bimbingan konseling yang disebut dengan cross-culture.

B. MULTIKULTURAL DAN MASYARAKAT MODERN

Manusia merupakan makhluk yang paling menakjubkan, unik multi dimensi dan makhluk psikofisik yang mempunyai potensi sangat agung, diantaranya memiliki kesadaran atau pemahaman akan diri (self-construal) sekaligus sadar akan lingkungannya, sehingga antara individu dengan lingkungannya tidak dapat dipisahkan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Tilaar (2000) bahwa globalisasi berdampak pada proses menghilangnya sekat-sekat pembatas ruang dan waktu yang berdampak pula kepada semakin trasparannya proses transpormasi nilai-nilai dan terjadinya asimilasi budaya yang semakin cepat dan nyaris tanpa batas (the world without border) Tilaar (2000)

Marcelo Suarez –Orezco seorang Profesor di Harvard Graduate School of Education, yang dikutip oleh Nurhudaya bahwa yang menjadi ciri globalisasi adalah migrasi, teknologi global, post nationalization produce, ide dan distribusi manfaat dan jasa serta adanya kecenderungan bolak-balik mengalirnya budaya dari satu bangsa kebangsa lain. (Nurhudaya, 2005: 506)

Diera globalisasi ini, multikultural merupakan isu mutakhir yang penting untuk dibahas dan dipikirkan. Dengan beragamnya budaya, yang kemudian menjadi konflik yang membahayakan. Isu pentingnya pemahaman multikultural ini, berangkat dari kesadaran bahwa masyarakat modern dewasa ini sudah tidak ada lagi ruang yang memiliki dinding ekslusif dengan budaya tertentu yang dianut oleh semua masyarakatnya. Kepercayaan dan nilai sekarang banyak yang dianut oleh berbagai komunitas budaya.

Tidak semua orang atau komunitas budaya menganut seperangkat kepercayaan yang sama, ada kepercayaan menurut kita logis tapi ada pula kepercayaan yang menyimpang, aneh atau bisa dipandang irasional. Diantaranya, bagi sebagian orang, pencapaian manusia adalah mencakup perolehan gelar, materi, dan penggunaan teknologi tercanggih, namun dalam nilai yang dianut sebagian orang lainnya pencapaian adalah menjadi insan kamil, manusia yang takwa yang meninggal dengan khusnul khatimah. Tapi ada juga yang memandang pencapaian adalah kedua pandangan di atas.

Agama menjadi salah satu kategori penting dalam pandangan dunia, karena dalam agama berbicara tentang ajaran bagaimana seharusnya manusia berhubungan dengan dirinya sendiri, orang lain, tanah, alam semesta dan Zat yang menciptakannya. Setiap agama memiliki ajaran yang khas mengenai hubungan atar manusia dengan lingkungan diluar dirinya, sehingga tidak mengherankan bagi orang yang berbeda agama memperdepatkan bagaimana tuhan di sembah karena mereka menganut ajaran yang berbeda mengenai pokok tersebut.

Orang yang terlahir dari keluarga Kristen, biasanya percaya bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh lewat Yesus Kristus. Sedangkan Islam meyakini bahwa satu syarat untuk masuk syurga adalah yakin bahwa Allah itu Esa, tetapi agama Hindu dan Budha tidak menganut kedua kepercayaan itu. Islam mengakui Yahudi dan Nasrani adalah keyakinan pendahulu yang asalnya sama menganut Tuhan yang Esa, namun Yahudi sekarang tidak mengakui Isa bahkan Juga Muhammad sebagai Rasul Allah setelah Nabinya. Mereka beranggapan bahwa bangsa mereka adalah Bangsa pilihan (kesayangan). Dalam agama yang sama boleh jadi terdapat variasi pandangan, perbedaan pemahaman. Dan tidak sedikit terjadi konflik dari perbedaan pandangan dalam satu agama

Selain itu, dalam dunia pengobatan terdapat orang yang mengandalkan penjelasan secara empiris-logis, seperti kebanyakan orang Jerman, Belanda, Amerika, Inggris dan lain sebagainya. Tapi ada pula yang menganggap penyakit akibat ada ketidak seimbangan antara unsur Yin dan Yang. Ada yang kerokan, minum jamu, kompres, akupunktur, bahkan mengkonsumsi organ tubuh hewan tertentu. Bahkan ada yang menganggap sebagai gangguan dari roh jahat.

Dengan kepercayaan yang beraneka ragam menyertai pula tata cara pengobatannya. Keaneka ragaman kepercayaan ini bagian dari khasanah kekayaan budaya. Bahkan perilaku yang kita anggap sepele, kadang-kadang bagi budaya tertentu sarat dengan nilai dan kepercayaan.

Budaya masyarakat modern yang pluralis dan multikultural ini menjadi suatu keniscayaan bahwa setiap individu masing-masing memiliki batas tegas yang terpisah dari orang lain sebagai bentuk pemahaman diri yang independen dan sekaligus saling keterkaitan yang mendasar dengan manusia lainnya (interdependensi).

Ada kecenderungan masyarakat yang bersifat sangat individualis dan ada pula yang kolektivis. Seorang yang individualis cenderung lebih mandiri dari yang kolektivis. Terdapat sembilan negara yang dipandang paling individualis: Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, Belanda, New Zeland , Italia, Belgia dan Denmark. Dan sembilan negara yang paling tidak individualis Venezuela, Kolombia, Pakistan, Peru, Taiwan, Thailand, Singapura, Chile dan Hongkong. (Gallois dan Victor, 1977: 24-25).

Kecenderungan individualis dan kolektivis ini memiliki nilai positif sekaligus negatifnya. Pada masyarakat modern hal ini menjadi satu sikap yang tidak lagi dapat dipertahankan sebagai dikotomis, dimana individualis yang memiliki kemandirian tidak mengenyampingkan pentingnya kerja sama dengan pihak lain yang saling ketergantungan (interdependensi). Begitu pula kecenderungan kolektivis tidak berarti bergantung kepada orang lain melainkan pentingnya kemandirian.

C. Kepekaan Budaya Pada Masyarakat Modern

Trenholm & Jensen mendefinisikan budaya sebagai seperangkat nilai, kepercayaan, norma dan adat istiadat, aturan dan kode yang secara sosial mendefinisikan kelompok-kelompok orang, mengikat mereka satu sama lain dan memberi mereka suatu kesadaran bersama. Lebih jauh mereka mengemukakan bahwa budaya adalah jawaban kolektif terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar, siapa kita? Bagaimana tempat kita di dunia? Dan bagaimana kita menjalani kehidupan kita?. Pemahamn budaya ini yang akan memandu kita untuk mempersepsi dunia, bagaimana kita berfikir tentang diri kita sendiri dan bagimana hubungannya dengan orang lain, dan bagaimana kita menetapkan dan mencapai tujuan kita, dan bagaimana kita mempertukarka pesan.(Trenholm dan Artur Jensen, 1992: 368.

Alfred L. Kroeber mengutip pendapat Tylor: “culture or civilization is that complex whole which includs knowledge, belief, art, morals, law, customs, and any othercapabilities and habits acquired by man is a member of siciety”. Sedagkan Geert Hofstede mendefinisikan budaya sebagai pemrograman kolektif atas pikiran yang membedakan anggota-anggota suatu kategori orang dengan kategori lainnya.

Peran budaya sangat besar dalam kehidupan kita. Apa yang kita bicarakan, bagaimana membicarakannya, apa yang kita lihat, perhatikan, atau abaikan, bagaimana kita berpikir dan apa yang kita pikirkan dipengaruhi oleh budaya kita. Budaya telah ada sebelum kita lahir dan akan tetap ada setelah kita meninggal.

Geert Hofstede menyatakan bahwa budaya terdiri dari beberapa tingkatan masing-masing mempresentasikan lapisan peroraman mental yang berlainan:

  1. Tingkat nasional menurut negara seseorang (atau negara-negara bagi orang yang bermigrasi selama hidup mereka)
  2. Tingkat regional dan/atau etnik dan atau agama dan atau afiliasi kebahasaan, karena kebanyakan negara terdiri dari berbagai kawasan yang berbeda secara budaya atau berbagai etnik an atau agama dan atai kelompok bahasa.
  3. Tingkat gender, berdasarkan apakah seseorang lahir sebagai perempuan atau lelaki.
  4. Tingkat generasi. Yang memisahkan kakek-nenek dari orang tua dan dari anak-anak.
  5. Tingkat kelas sosial, yang dikaitkan dengan peluang pendidikan , pekerjaan atau profesi seseorang.
  6. Tingkat organisasi atau korporat bagi mereka yang bekerjaberdasarkan cara pegawai tersosialisasikan dalamorganisasi kerja mereka.

Tingkatan ini dapat ditambah, misalnya dengan tingkat yang lebih tinggi dari tingkat budaya nasional yaitu budaya benua seperti budaya Asia, budaya Eropa. Atau dapat dibagi kedalam lima kategori sebagaimana yang disampaiakan oleh K.S. Sitaram dan Roy T. Cogdell, yakni:

  1. Kebudayaan Barat (Orang Kaukasia yang tinggal di Amerika dan Eropa).
  2. kebudayaan Timur yang didominasi oleh Hindu dan Budha
  3. Kebudayaan kulit hitam Amerika
  4. kebudayaan Afrika
  5. Kebudayaan Islam. (Mulyana, 2004)

Sepintas dapat diamati sejumlah mentalistas yang dimiliki berbagai kebudayan suku bangsa di Indonesia menurut Kuncoro Ningrat (1993) yakni:

  1. Konsepsi waktu yang sifatnya serkuler (waktu itu “beredar” tidak “berlangsung”
  2. Hidup terlalu bergantung pada nasib.
  3. Sikap kekeluargaan dan gotong-royong yang sangat kuat
  4. Orientasi nilai budaya vertikal . ( Kuncoro Ningrat (1993))

Mentalitas yang demikian tidak menjadi mutlak ada pada semua individu warga negara Indonesia. Dengan demikian individu tidak hanya memiliki satu budaya saja, akan tetapi dimungkinkan memiliki sejumlah budaya dan subkultur yang tumpang tindih, yang berkontribusi dengan caranya masing-masing untuk memahami dunia ini. Seorang individu sekaligus dapat memiliki dan dimiliki oleh entitas budaya berikut: ia adalah seorang Indonesia, jawa, kristen, pegawai swasta, anggota klub olah raga, penggemar musik Jazz dan sebagainya.

Pada diri individu sendiri adakalanya terjadi pertentangan antara sejumlah entitas budaya dirinya yang memunculkan konflik diri, misalnya nilai agama boleh jadi bertentangan dengan nilai-nilai generasi dilingkungannya yang sulit dihindari. Apalagi pertentangan antar tingkat budaya di atas, dimana masing-masing individu memiliki prinsip yang dipandangnya paling benar dan berbeda dengan pandangan orang lain yang juga merasa paling benar.

Semua akivitas relasi yang dilakukan mengandung dimensi antar udaya. Dengan demikian relasi yang kita lakukan mengandung konflik antarbudaya bahkan bisa terjadi antar suami dan istri sekalipun yang berasal dari budaya yang berbeda, atau antar orang tua dan anak, yang kemudian karena terpisah untuk kepentingan yang bermacam-macam seperti kuliah, bekerja dan lain sebagainya.

Konflik ini menyangkut semua bidang, diantaranya yang terjadi di Jawa Timur, persaingan antar suku tidak saja dikalangan preman, bahkan dikalangan elite politk, atau dilingkungan akademisi. Konflik ini terjadi pula di lingkungan lainnya. Maka sudah saatnya bagi kita untuk mengatasi perselisihan dan konflik antar budaya ini, baik secara vertikal maupun secara horizontal, baik pada tingkat pribadi maupun komunitas. Salah satu caranya adalah dengan membekali diri kita dengan pengetahuan yang relevan khususnya bagaimana budaya berpengaruh terhadap cara berelasi, apa yang akan terjadi jika dua pihak yang berbeda latar belakang budaya dan bagaimana cara meminimalkan friksi yang muncul sebagai akibat dari perbedaan buaya tersebut.

D. KESIMPULAN

Perkembangan budaya di era globalisasi ini yang hampir tidak ada lagi sekat pemisah antara satu budaya dengan budaya lainnya, adalah konteks yang urgen dalam mewujudkan kesadaran akan multikultur. Hal ini penting disadari oleh setiap individu, karena tanpa dimilikinya kesadaran akan plural dan multikultural akan sangat rentan terhadap konflik.

Hal ini dapat dilakukan dengan ditumbuhkembangkan kepekaan budaya pada semua dimensi, baik pendidikan, sosial, politik, ekonomi dan lain sebagainya termasuk didalamnya layanan bimbingan dan konseling. Sehingga individu tidak lagi merasa paling benar sendiri dan mempersalahkan cara pandang yang tidak sejalan dengan dirinya, atau individu tidak merasa bermasalah ketika prinsip hidupnya berbenturan dengan prinsip orang lain yang berbeda.

Peran konselor sangat penting, terutama kesadaran akan batas individualis dan interdependensi. Pada prinsipnya individualis tidak sebatas mandiri, melainkan sadar akan interdependensi dengan pihak lain dan interdependensi tidak menjadi kebablasan bergantung pada orang lain, melainkan adanya kemandirian.

E. DAFTAR PUSTAKA

Matsumoto David (2008) Pengantar Psikologi Lintas Budaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Deddy Mulyana (2004) Komunikasi effektif suatu pendekatan lintas budaya :Bandung, Remaja Rosdakarya.

Geert Hofstede (1994) Cultures and organizations: Intercultural cooperation and its importance for survival London : HarperCollins

Nurhudaya (2005) Pelayanan Konseling di Era Global dalam buku Pendidikan dan Konseling di era Global dalam Perspektif Prof. DR. M. Djawad dahlan, Bandung: Rizqi Press..

Sarah Trenholm dan Artur Jensen (1992) Interpersonal Communication) Edisi ke 2 Belmont: Wadeswort.

Cynthia Gallois dan Victor Callan (1977) Communication and Culture: A Guide for Practice. Chicester West Sussex: England, John Wiley & Sons.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *