Fingerprint Dan Upaya Membangun Potensi Manusia

A. PENDAHULUAN

Manusia merupakan ciptaan Allah yang paling sempurna. Sebagai khalifah di dunia, manusia dibekali dengan potensi-potensi. Dengan mengasah potensi inilah, maka manusia akan mampu melaksanakan amanah tersebut.

Berbagai pandangan para ahli mengemukakan sejumlah potensi manusia, diantaranya yang dikutif oleh Musfiroh dari Howard Gardner (1970); Amstrong (1994) dengan istilah multiple Intelegences (MI) yang dimaknai sebagai kecerdasan ganda, kecerdasan majemuk atau kecerdasan jamak. (Musfiroh, 2008: 35)

Lebih lanjut dijelaskan bahwa kecerdasan sebagai potensi yang dimiliki manusia ini adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau produk yang dibuat dalam satu atau beberapa budaya. Secara terperinci Garner mendefinisikan kecerdasan sebagai:

  1. Kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan nyata.
  2. Kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan.
  3. Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang kan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang.

Kecerdasan-kecerdasan ini merupakan potensi biologis yang diekspresikan sebagai hasil dari faktor-faktor genetik dan lingkungan yang saling mempengaruhi. Dan bentuk kecerdasan ini merupakan percampuran dari semua kecerdasan yang tertanam dalam berbagaisistem simbol, diantaranya adalah bahasa, gambar, peta, notasi musik, simbol matematika.

Menurut SMART Human Re-Search & Psychological Development sebagai biro psikologi yang memberi perhatian besar pada studi-studi mengenai kecerdasan, menggambarkan kecerdasan dari hasil pengamatan pada sejumlah kasus, kecerdasan manusia terutama terkait dengan bagaimana seseorang bisa survive di lingkungannya.

Dalam semua aktivitas kehidupan manusia memerlukan kombinasi kecerdasan. Dengan bekal inilah manusia betul-betul dapat menjalankan fungsinya sebagai khalifah di dunia. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Jalaludin bahwa manusia dibekali dengan empat potensi utama yang secara fitrah sudah dianugrahkan Allah, yakni: (1)hidayah al-Ghariziyyat (potensi naluriah); (2)hidayah al-Hassiyat (potensi indrawi); (3)hidayah al-Aqliyyat (potensi akal); dan (4)hidayah al-Diniyyat (potensi keagamaan). (Jalaluddin, 2002)

Potensi naluriah adalah dorongan primer yang berfungsi untuk memelihara keutuhan dan kelanjutan hidup manusia. Dorongan ini siap pakai tanpa harus melalui proses belajar (sesuai dengan kebutuhan dan kematangannya). Seperti insting makan, minum, nafsu amarah, bertahan atau menghindar dari gangguan yang mengancam dirinya, naluri seksual, karya busana, senjata, tempat tinggal dll.

Potensi indrawi erat kaitannya dengan peluang manusia untuk megenal sesuatu diluar dirinya. Selain alat indra yang biasa disebut panca indra, terdapat pula indra kesetimbangan dan taktil yang berfungsi untuk pemanfaatan alat indra ini yakni otak dan fungsi serapnya. Potensi akal adalah untuk memahami simbol-simbol, hal-hal yang abstrak, menganalisa, membandingkan, maupun membuat kesimpulan yang akhirnya untuk memilih. Sedangkan potensi keagamaan adalah dorongan untuk mengabdi kepada sesuatu yang dianggapnya memiliki kekuasaan yang lebih tinggi (believe in supranatural being).

Dengan keempat potensi inilah manusia dibekali Allah untuk menuju kepada kesempurnaan. Pada tingkat kesempurnaan inilah manusia dapat menjadi khalifah di bumi.

B. PEMBAHASAN

Potensi manusia menurut sebagian pendapat dimiliki oleh setiap manusia dengan kadar yang berbeda-beda. Diantaranya pendapat Gardner; Hine dan Amstrong. Gardner mengklasifikasikan karakteristik multiple intelegensi sebagai berikut:

  1. Semua jenis inteligensi berbeda-beda, tapi semuanya sederajat. (Gardner, 1993; Amstrong, 1996; Hine, 2003)
  2. Semua kecerdasan tersebut bekerja sama dalam mewujudkan aktivitas yang diperbuat manusia. (Gardner, 1993)
  3. Semua kecerdasan ditemukan diseluruh lintas budaya di dunia dan kelompok usia. (Gardner, 1993: Amstrong, 2004)

Karakteristik multiple intelegensi yang dipaparkan Gardner di atas memperkuat keyakinan bahwa sesungguhnya manusia semuanya telah dibekali potensi oleh Allah SWT.

Fenomena akan pentingnya mengasah potensi bagi masyarakat dewasa ini, tidak sedikit orang tua maupun guru yang melakukan sejumlah tes untuk memperoleh gambaran kongkrit tingkat kecerdasan anak atau siswanya. Sejumlah pengujian ini dilakukan dengan berbagai penilaian, tes IQ, tes kepribadian, tes bakat dan minat, yang tentu tidak terlepas dari global assesment.

Global assessment menurut Asosiasi Psikiatri Amerika (American Psychiatric Association) pada tahun 1994 “ is the most commonly used measure of adaptive functioning/impairment in mental health setting”. (Bacon, 2002: 1) Yakni pengukuran atau penilaian yang sering digunakan oleh psikiater untuk mengukur kemampuan adaptif sebagai gambaran sehatnya mental seseorang.

Pada perkembangan selanjutnya, global assessment digunakan pula dalam menilai kualitas kesehatan mental seseorang untuk kepentingan pekerjaan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Montalvo bahwa fungsi global assesment (global assesment of functioning) is a numeric scale (0-100) used by mental health clinicians and doctors to rate the social, occupational and psychological functioning of adultts.(Montalvo, 2005: 10)

Global assesment sebagai alat pengukuran dalam bentuk skala numerik 0 sampai 100 yang digunakan oleh klinik kesehatan mental dan dokter untuk menilai sosial, pekerjaan dan fungsi psikologis orang dewasa. Dapat pula dugunakan untuk usia anak dan remaja dengan pengukuran yang berbeda.

Selain jenis tes dengan pengukuran seperti global assesment di atas, terdapat jenis test yang dikenal dengan fingerprint test. Terhadap jenis tes ini, banyak sekali peminat dikalangan masyarakat, hal ini dapat dilihat pada beberapa jadwal yang telah dilakukan SMART (sebagai biro psikologi) di Jakarta.

Diantara jadwal yang sudah diselenggarakan adalah pada tanggal 3 Agustus 2008, yang diselenggarakan dalam bentuk kerja sama antara SMART bersama Personal Growth Jakarta. Kemudian pada tanggal 4 Agustus 2008, SMART mengadakan Fingerprint Test dan penjelasan mengenai Multiple Intelligence bersama psikolog Dra. Ratih Andjayani Ibrahim, MM. Selain itu, diselenggarakan pula di Surabaya pada waktu yang sama dan bertempat di SMART Human Re-search & Psychological Development, Jl. Taman Gapura G-20 Citraland-Surabaya. Minat akan jenis tes ini dapat dilihat pula dalam iklan internet, dimana tes diselenggarakan hampir disemua kota besar di Indonesia.

Fingerprint test yang kini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan alami yang dimiliki oleh seseorang, terutama dikota-kota besar, adalah teknik analisis dengan berdasarkan identifikasi pada pola-pola garis dalam sidik jari seseorang. Setiap pola merupakan penanda akan adanya potensi kecerdasan tertentu yang bersifat bawaan. Teknik ini tidak dipandang sebagai teknik yang spekulasi dan tentu berbeda dengan ramalan garis tangan (palmistry).

Fingerprint test adalah sebuah teknik analisis yang berbasis penelitian selama ribuan tahun. Hasil penelitian-penelitian yang menunjukkan bahwa fingerprint dapat digunakan dalam mengidentifikasi perkembangan otak telah berlangsung sejak jaman Plato.

Sebelumnya, orang menghargai sidik jari sebagai lengkungan-lengkungan biasa tanpa makna khusus. Namun dalam Al Qur’an, Allah merujuk kepada sidik jari, yang sedikitpun tak menarik perhatian orang waktu itu, dan mengarahkan perhatian kita pada arti penting sidik jari, yang baru mampu dipahami di zaman selanjutnya.

Sidik jari memiliki makna sangat khusus. Sidik jari setiap orang adalah khas bagi dirinya sendiri. Setiap orang yang hidup atau pernah hidup di dunia ini memiliki serangkaian sidik jari yang unik dan berbeda dari orang lain. Oleh karena itulah sidik jari dipakai sebagai kartu identitas yang sangat penting bagi pemiliknya dan digunakan untuk tujuan ini di seluruh penjuru dunia.

Kita tahu bahwa otak adalah bagian penting dalam kehidupan setiap individu. Manusia memanage dan mengolah realita di yang ada dihadapannya melalui proses yang terjadi di otaknya. Saraf-saraf dalam otak sebenarnya telah terbentuk sejak individu berusia 23 minggu dalam kandungan.

Pembentukan saraf dalam otak ini dapat diidentifikasi melalui sidik jari atau fingerprint. Fingerprint pada diri seseorang tidak akan berubah dari sejak kecil hingga lanjut usia. Hal ini menunjukan bahwa potensi kecerdasan ini juga tidak berubah. Namun dalam perjalanan hidupnya, faktor budaya turut berperan dalam pengembangan potensi kecerdasan individu. Potensi tertentu bisa jadi tidak berkembang karena faktor lingkungan yang membentuk diri individu.

Berkaitan dengan potensi alami manusia yang telah dibahas diatas, hasil tes melalui fingerprint ini perlu sosialisasikan kepada masyarakat (dengan terlebih dahulu dilakukan penelitian kebermanfaatannya), paling tidak dari sejak dini dapat dilakukan pembimbingan agar terhindar dari underachiever. Menurut Hawadi (2004); Davis dan Rimm dalam Munandar (2004) menunjukan bahwa tidak sedikit jumlah siswa yang mengalami underachiever. Dari hasil penelitian kepada 199 anak dan 38%nya yakni 77 siswa mengalami undereciever.

Fingerprint test menurut hemat penulis, bukanlah pengganti atau jenis tes alternatif yang menjadi primadona bagi yang jengah atau malas berhadapan dengan soal-soal tes pada jenis test lainnya. Fingerprint test penting dalam mengidentifikasi potensi kecerdasan dasar sejak dini untuk dilanjutkan dengan tes IQ, kepribadian, bakat dan minat pada usia selanjutnya. Hal ini akan sangat berguna untuk mengukur tingkat kecerdasan yang dimiliki sebagai potensi yang masih bersifat potensial (fingerprint test) dengan yang aktual (test psikologi lainnya).

Dengan memahami potensi kecerdasan anak sejak berusia sangat belia, maka kita bisa mempersiapkan lingkungan yang menunjang perkembangan potensi yang dimiliki anak tersebut. Hal yang paling penting adalah potensi kecerdasan memperoleh stimulus yang seimbang sesuai dengan tingkat perkembangan usia anak. Seringkali ditemukan kasus bahwa pekerjaan yang dipilih oleh seseorang tidak sesuai dengan bakat dan minatnya. Dan tidak sedikit stimulus yang dilakukan orang tua terhadap anaknya bukan berangkat dari potensi yang menonjol dari anak tersebut, melainkan pengaruh yang ada dari lingkungan.

Konselor sebagai tenaga profesional penting dibekali terlebih dahulu dengan sejumlah pengetahuan tentang sejumlah pengukuran kecerdasan di atas. Dan penting adanya lisensi khusus bagi konselor yang sudah dapat melakukan tes tersebut, untuk menghindari terjadinya malpraktik.

C. SIMPULAN DAN PENUTUP

Manusia sudah dibekali sejumlah potensi untuk diasah dan ditumbuh kembangkan agar dapat menjalankan perannya sebagai khalifah di bumi. Potensi yang dimiliki oleh manusia sangat beragam dan penting dilakukan stimulasi agar terbentuk kecakapan yang aktual.

Sejumlah tes dilakukan untuk mengukur kecerdasan, kepribadian, bakat dan minat dengan pengukuran yang biasa dilakukan dalam bentuk tes psikologi. Namun kemudian ditemukan pengukuran yang kian diminati oleh masyarakat terutama di kota-kota besar yakni fingerprint test.

Penting dilakukan penelitian untuk menguji keakuratan dan nilai manfaat yang dapat diperoleh melalui tes ini. Hasil penelitian yang harus dipublikasikan untuk menghindari malpraktek dalam layannanya. Selain itu penting adanya lisensi khusus bagi yang berhak mengujinya, dengan tidak mengenyampingkan kode etik secara formal yang mengaturnya.

Konselor dalam layanan profesionalnya penting dibekali dengan pemahaman tentang sejumlah tes termasuk fingerprin test. Apalagi di Indonesia, lahan bagi konselor adalah dalam sektor pendidikan

C. DAFTAR PUSTAKA

Gardner, Howard (1993) Multiple Intelligences: The Teori in Practice A Reader. New York: Basic Books.

Amstrong, Thomas. (1996) Multiple Intelegences in The Classroom. Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development

Musfiroh, Tadzkirotun (2008) Cerdas Melalui Bermain. Jakarta : PT. Grasindo.

Hine, Connie (2003) Developing Multiple Intelligences in Young Learners. http://www.earlychildhood.com.

Liong, Vincent (2008) Otak dan Perkembangan Kecerdasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *