Membangun Profesionalisme Dalam Layanan Bimbinga Dan Konseling

A. PENDAHULUAN

Profesional dapat dimaknai sebagai kemampuan dalam memahami dengan benar apa dan bagaimana bidang pekerjaannya dan dapat memanfaatkan ilmu pengetahuan dari pendidikan yang telah diperolehnya di dalam praktek bekerja. Aktualisasi ilmu pengetahuan ini hanya bisa terjadi apabila melakukan koneksi secara terus menerus antara teori-teori yang diperoleh di ruang kuliah dengan fenomena-fenomena yang dihadapi pada saat praktikum, magang, kerja praktek, ataupun fenomena yang ada dimasyarakat. Aktualisasi ini harus terjadi secara komprehensif dengan memanfaatkan seluruh teori yang diperoleh.

Profesionalisme Bimbingan dan Konseling sangat ditentukan oleh kompetensi teknis, interpersonal skill serta sikap dan perilaku kerja. Selain itu obyektifitas, kreativitas dan etika merupakan prasyarat dasar yang perlu dipenuhi untuk mewujudkan profesionalisme konselor. Diantara hal yang dipandang paling penting dalam mewujudkan profesional konselor adalah Pendidikan Profesi, Asosiasi Profesi danTenaga profesinya.

Pendidikan Profesi yang diselenggarakan dengan tetap mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan harapan dapat dicapai relevansi pendidikan dengan tuntutan kerja, serta dimaksudkan untuk mengembangkan strategi-strategi perbaikannya secara berkelanjutan.

Terpenuhinya profesional konselor dengan cara mengakomodasi dua dimensi, yakni kompetensi knowlwdge dan skill. Dari kedua dimensi ini tidak melepaskan diri dari aspek interpersonal skill (attitude atau values). Di dalamnya berisi pengetahuan yang bersifat advanced dan baru sehingga selalu mengupdate segala kemampuan konselor. Kurikulum Pendidikan profesi disusun dengan mengikuti kriteria bahan ajar yang ditetapkan oleh Asosiasi Profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia dengan merujuk kepada Asosiasi Profesi internasional.

Lulusan perguruan tinggi bimbingan dan konseling dan pendidikan profesi betul-betul dapat menjadi agent of change dan guardian of values. Dalam hal ini dapat dibentuk melalui kerja praktek, magang, training atau ikut sebagai tim untuk problem solver terhadap masalah tertentu. Delain telah lulus dari perguruan tinggi dengan jurusan yang telah dipersyaratkan.

B. PEMBAHASAN

Bimbingan dan Konseling berperan dalam berbagai seting, tidak saja pada empat didinding sekolah melainkan mencakup semua lingkungan yang menyangkut pendidikan. Dengan demikian, tuntutan kompetensi konselor semakin luas, karena ia harus mampu melakukan bimbingan dan konseling pada berbagai seting.

Kompetensi konselor mencakup pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk berperan baik sebagai konselor sekolah, perkawinan, karier, traumatik, rehabilitasi dan kesehatan mental. Pada setiap seting di atas, terdapat tuntutan kompetensi yang bersifat khusus sesuai dengan seting pekerjaan konselor. Kompetensi ini disebut dengan kompetensi inti (kompetensi khusus/ core/ speciffic competence).

Di Indonesia, konselor lebih mengarah kepada layanan dalam sektor pendidikan. Baik pendidikan formal maupun non formal. Perkembangan masyarakat dewasa ini yang sarat dengan penggunaan teknologi yang canggih berimbas pula kepada bentuk layanan bimbingan dan konseling.

Kompetensi adalah sebuah kontinum perkembangan mulai dari proses kesadaran (awareness), akomodasi dan tindakan nyata sebagai wujud kerja. (Sunaryo, 200: 113) Lebih lanjut dijelaskan bahwa sebagai suatu kebutuhan, kompetensi konselor merujuk kepada penguasaan konsep, penghayatan dan perwujudan nilai, penampilan pribadi yang bersifat membantu dan unjuk kerja profesional yang akuntabel. the ability to do or perform something well dan the ability to function effectively in a job of life roles (Schalock, 1981: Harris, 1995 dalam Ansyar, 2005).

Brojonegoro (2005) mengutip SK Mendiknas 045/U/2002, mengartikan kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas, penuh tangung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas di bidang tertentu. Nurhadi, Yasin, B. & Senduk, A.G. (2004) memaknai kompetensi sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai dasar yang tercermin dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.

MacAsham menyimpulkan bahwa kompetensi terbentuk dari konstitusi pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai (sikap) yang menjadikan seorang sukses dalam hidupnya (Hasan, 2002). Kompetensi itu yang menjadikan seseorang fungsional di masyarakat (functional competence), profesional dalam pekerjaan (vocational competence), dan berkembang dalam hidupnya (study skill). Jadi, kompetensi merupakan hasil konstruksi kemampuan (compose skill) sehingga seseorang mampu; (1) melaksanakan pekerjaan sesuai peran, posisi atau profesi, (2) mentransfer ke tugas dan situasi baru, serta (3) melanjutkan studi dan mencapai kedewasaan diri (Harris, et.al., 1995 dalam Ansyar, 2005).

Dengan demikian kompetensi konselor sebagaimana dengan kompetensi yang lain, terdiri atas dua kompetensi yang terintegrasi yakni, kompetensi akademik dan kompetensi profesional( Depdiknas, 2008: 38). Secara terperinci diuraikan didalam buku penataan pendidikan profesional konselor dan layanan bimbingan dan konseling. Diantaranya adalah:

Perubahan tatanan masyarakat global ini, menuntut layanan bimbingan dan konseling yang cepat, luas dan mudah diakses oleh konseli. Diantaranya adalah bimbingan dan konseling dengan menggunakan teknologi komputer khususnya interet yakni E-Counseling. Konseling dengan melalui e-mail ini sering juga disebut email therapy, online therapy, cyber counseling. Dalam terapi ini proses konseling melalui tulisan sekaligus pertemuan dengan konseli. (Nurikhsan, 2005: 63) Begitu pula layanan konseling melalu telephone atau sms.

Layanan bimbingan dan konseling melalui internet dan telepon ini, difungsikan untuk melengkapi dari layanan bimbingan konseling tatap muka. Digunakan layanan sebagai alternatif kemudahan yang dapat dipilih. Baik dari segi waktu, jarak dan biaya yang dikeluarkan. Dengan demikian kompetensi konselor semakin luas dengan dibekali pengetahuan dan kemampuan dalam menggunakan berbagai media elektronik dan alat komunikasi informasi.

Diantara gambaran umum yang harus diperhatikan bagi calon konselor adalah manfaat Aplikasi Teknologi Komputer untuk Bimbingan dan Konseling, Berdasarkan potensi penggunaan komputer untuk konselor, dapat diuraikan manfaat penggunaan teknologi computer untuk Bimbingan dan Konseling (Sampson , Kolodinsky, & Greeno 1997). Setidaknya ada 28 (dua puluh delapan) manfaat dari penggunaan komputer berbasis internet terhadap profesi konseling, yakni:

1. Bantuan diri Software

2. Client/therapist Email / surat elektronik

3. Collegial professional Email / surat elektronik

4. Diseminasi informasi Website / homepage

5. Dukungan / pengukuhan Chat rooms

6. Kegiatan asosiasi professional Newsgroups

7. Konsultasi a. Computer konferensi video, b. Newsgroups

8. Marketing Email / surat elektronik

9. Masukan Email / surat elektronik

10. Membantu diri sendiri Chat rooms

11. Monitoring inter-sessions Email / surat elektronik

12. Pekerjaan rumah a. Email / surat elektronik, b. Computer konferensi video, c. Software

13. Pelatihan keterampilan Software

14. Pelatihan kompetensi Simulasi terkomputerisasi

15. Pemasaran / periklanan Website / homepage

16. Penelitian a. Email / surat elektronik, b. Pangkalan data / FTP site

17. Penilaian dan analisis Pangkalan data / FTP site

18. Publikasi Website / homepage

19. Referral / alih tangan a. Newsgroups, b. Email / surat elektronik, c. Komputer konferensi video

20. Screening Email / surat elektronik

21. Sumber daya untuk informasi a. Newsgroups, b. Pangkalan data / FTP site

22. Sumber informasi perpustakaan Pangkalan data / FTP site

23. Supervisi Simulasi terkomputerisasi

24. Surat menyurat untuk penjadwalan / janji Email / surat elektronik

25. Terapi kelompok Chat rooms

26. Terapi a. Email / surat elektronik, b. Komputer konferensi video

27. Tindak lanjut post-therapeutic Email / surat elektronik

28. Transfer rekaman klien a. Email / surat elektronik, b. Pangkalan data / FTP site

Dari 28 manfaat di atas, secara umum konselor memahami betul beberapa hal pokok dari Komputer Berbasis Internet untuk Bimbingan dan Konseling, diantaranya adalah Internet Definition yaitu Interconnected Network atau yang lebih populer dengan sebutan Internet adalah sebuah sistem komunikasi global yang menghubungkan komputer-komputer dan jaringan-jaringan komputer di seluruh dunia. Internet bisa memberikan informasi yang sifatnya mendidik, positif dan bermanfaat bagi ummat manusia. tapi juga bisa dijadikan sebagai lahan kejelekan dan kemaksiatan. Hanya etika, mental dan keimanan masing-masinglah yang menentukan batas-batasnya apakah anda ingin menjadi seorang netter, hacker atau craker.

Internet Fundamentals (Dasar-dasar Internet). Dalam dunia internet ada istilah yang dikenal dengan browshing yakni kegiatan menjelajah dalam dunia maya untuk mencari informasi. Browsing merupakan kegiatan mencari informasi dengan fasilitas bantu yang disebut Browser. Istilah kedua adalah Search Engine atau mesin pencari merupakan sebuah situs yang membantu mencari informasi diinternet. Istilah ketiga adalah Chating yakni kegiatan diskusi atau percakapan yang dilakukan dalam dunia maya.

Browser adalah “alat pemandu menjelajah internet” yang akan mengantar anda malakukan berbagai aktivitas di internet “dunia maya”. Program standar penjelajah internet yang biasa kita pakai adalah Internet Explorer, karena pada dasarnya internet explorer merupakan bagian dari paket program sistem operasi windows, sebenarnya masih banyak web browser lain yang dapat anda gunakan walaupun cara pemakaiannya sama.

Search Engine atau mesin pencari merupakan sebuah situs yang membantu mencari informasi diinternet. Hanya dengan mencantumkan sebuah keyword atau kata kunci secara otomatis search engine akan mencari dan menyajikan semua informasi yang mengandung kata tersebut kepada user atau pengguna. Untuk mengakses situs search engine dalam dilakukan dengan menggunakan fasilitas browser. Dalam dunia internet ada satu search engine yang sangat populer digunakan yaitu “google”.

Chatting, layanan IRC(Internet Relay Chat), atau biasa disebut sebagai “chat” saja adalah sebuah bentuk komunikasi diintenet yang menggunakan sarana baris-baris tulisan yang diketikkan melalui keyboard. Dalam sebuah sesi chat, komnunikasi terjalin melalui saling bertukar pesan-pesan singkat. kegiatan ini disebut chatting dan pelakunya disebut sebagai chatter. Para chatter dapat saling berkomunikasi secara berkelompok dalam suatu chat room dengan membicarakan topik tertentu atau berpindah ke modus private untuk mengobrol berdua saja dengan chatter lain. Kegiatan chatting membutuhkan software yang disebut IRC Client, diantaranya yang paling populer adalah software mIRC. Ada juga beberapa variasi lain dari IRC, misalnya apa yang dikenal sebagai MUD (Multi-User Dungeon atau Multi-User Dimension). Berbeda dengan IRC yang hanya menampung obrolan, aplikasi pada MUD jauh lebih fleksibel dan luas. MUD lebih mirip seperti sebuah dunia virtual (virtual world) dimana para penggunanya dapat saling berinteraksi seperti halnya pada dunia nyata, misalnya dengan melakukan kegiatan tukar menukar fileatau meninggalkan pesan. Karenanya, selainuntuk bersenang-senang, MUD juga sering dipakai oleh komunitas ilmiah serta untuk kepentingan pendidikan (misalnya untuk memfasilitasi kegiatan kuliah jarak jauh). Yahoo merupakan salah satu situs yang menyediakan fasilitas chatting yang cukup terkenal yakni yahoo messenger dengan softwarenya ymsr. Dengan fitur yang lebih lengkap seperti display foto, kamera (cam) dan suara (voice).

Dari berbagai uraian diatas maka seorang konselor dapat melakukan berbagai inovasi layanan bimbingan dan konseling dengan memanfaatkan internet. Konselor mungkin dapat memulainya dengan merancang sebuah bentuk layanan yang berbasis internet kemudian menuangkannya dalam satuan layanan dan mengaplikasikannya. Namun tetap bahwa layanan ini berfungsi sebagai pelengkap dari layanan tatap muka.

C. KESIMPULAN

Dalam mayarakat dewasa ini, layanan bimbingan dan konseling dapat menggunakan berbagai media. Diantaranya internet, telepon dan sms. Semua media yang tersedia menuntut kemampuan konselor dalam menggunakannya sebagai inovasi dalam layanan bimbingan dan konseling.

Kompetensi akademik dan kompetensi profesional konselor tentu mempersyaratkan kemampuan konselor dalam menggunakan media tersebut. Namun hal yang juga penting untuk diperhatikan bahwa perlunya kode etik yang mengatur agar tidak terjadi malpraktek dalam penggunaan media ini. Dan layanan bimbingan dan konseling dengan inovasi ini merupakan layanan pelengkap dari bentuk tatap muka, sehingga dpat dikatakan bahwa layanna bimbingan dan konseling pasti menggunakan bentuk tatap muka sebagai layanan inti.

D. DAFTAR PUSTAKA

Triyanto, Agus. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Konseling. No. 01 Th. I, Januari 2006.

Universitas Negeri Yogyakarta.

Soemantri, Maman. (2006). Mengenal kebutuhan keahlian computer di perguruan tinggi.

(http://www.geocities.com/-mmsomantri/butuhkmpdipt.htm)

Ramadhani, Graifhan. (2003). Modul Pengenalan Internet.

(http://dhani.singcat.com/files/pengenalan_internet.pdf)

Hines, Peggy La Turno. (2003). Student Technology Competencies for Schoolounseling Programs. (http://jtc.colstate.edu/vol2_2/hines/hines.htm)

Kartadinata, Sunaryo (2005) dalam Pendidikan dan Konseling di era Global dalam Perspektif Prof. DR. M. Djawad dahlan, Bandung: Rizqi Press..

Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan. (2008). Landasan Bimbingan dan Konseling, Bandung: Remaja Rosdakarya

Brodjonegoro, S.S. 2006. Orientasi dan kebijakan kurikulum nasional. Makalah disajikan dalam Seminar Kurikulum Berbasis Kompetensi di Universitas Muria Kudus; Sabtu, 24 Desember 2005

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *